Kami pun Berteriak “Innovation in You!”

Naik pesawat untuk pertama kali dan gratis

Kalimat itu aku tulis pada sebuah portable whiteboard yang aku pasang di dinding kamarku pada permulaan tahun 2016, ceritanya sih bikin resolusi awal tahun seperti kebanyakan orang. Namun, pada akhirnya kalimat itu beserta sederet kalimat lainnya hanya menjadi hiasan belaka hingga tahun berakhir. Nampaknya jarang sekali resolusi yang aku tulis tiap awal tahun terjadi pada tahun tersebut, hampir bisa dihitung dengan satu jari jumlah yang terwujud. Seakan semua yang aku tulis hanya menjadi wacana belaka.

Tetapi, keajaiban terjadi dua tahun kemudian. Pada bulan Juni tahun 2018, tepat di saat hari ulang tahunku yang ke 21, aku mendapatkan sebuah kado yang paling berkesan sepanjang hidupku. Proposal lomba yang aku ajukan bersama partner lombaku, Aya Shofia, ternyata masuk ke babak final dan diundang untuk melakukan presentasi di Jakarta. Babak final itu diselenggarakan dua bulan lagi pada 28-31 Agustus 2018.

Aku kira perjalanan menuju ke loaksi akan menggunakan kereta seperti biasanya lomba, tetapi setelah panitia merilis itinerary ternyata

kami dibelikan tiket pesawat PP Jogja-Jakarta. Seketika aku merenung dan berpikir, kalo tidak salah ini mimpi yang aku tulis dua tahun lalu dan baru terwujud sekarang. Ternyata benar, Tuhan mengabulkan doa dengan tiga cara dan ini adalah cara Tuhan menunda doa tersebut dan mengabulkannya di saat yang tepat.

Dua bulan berlalu, setelah segala tetek benget persiapan final dan drama-drama yang terjadi kami pun berangkat menuju Jakarta. Aku berangkat menuju bandara sebelum subuh tiba, karena panitia membelikan tiket penerbangan paling pagi yaitu jam 05:00, yang berarti harus sudah boarding 30 menit sebelumnya. Tetapi tidak semudah itu ferguso, ternyata perjalananku dari rumah cukup memakan waktu dan baru tiba di bandara Adisucipto pukul 4:30, yang menandakan sebenarnya penumpang pesawat kami udah boarding semua. Dan benar begitu cetak boarding pass, petugas bandara segera menguber-uber aku dan Aya untuk masuk ke pesawat, kami diberikan prioritas untuk mendahului antrean x-ray. Begitu naik di pesawat, sepertinya kami penumpang terakhir yang masuk, lantaran tidak ada kursi kosong selain milik aku dan Aya, bahkan dosen pembimbing kami udah duluan masuk. Beruntunglah masih ada kabin kosong yang bisa dimasukkan koper kami berdua, aku tidak bisa membayangkan seandainya kami memakai fasilitas bagasi entah akan seriweuh apa jadinya.

Sembilanpuluh menit penerbangan berlalu, kami sampai di bandara Soekarno-Hatta terminal 1C dan menunggu di titik penjemputan yang udah dijanjikan oleh panitia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *